Halus Jadi Mahluk

Makhluk Halus
.
Jauh sebelum manusia ada..., bumi ini sudah ditinggali oleh bermacam-macam makhluk..., termasuk makhluk halus.
Orang Arab menyebut makhluk halus itu jin..., orang Jawa menyebutnya lelembut..., orang Bali menyebutnya wong samar..., dan banyak sebutan lain di daerah-daerah lainnya.
Dalam beberapa manuskrip kuno disebutkan..., manusia didapuk menjadi khalifah di bumi..., pemimpin yang diharapkan mampu menjaga dan memakmurkan bumi.
Di masa yang sangat lampau..., manusia bisa hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk itu. Mereka bisa melihat manusia..., manusia pun bisa melihat mereka.
Seiring pergantian jaman menuju Kaliyuga..., kemampuan itu menurun..., sehingga hanya sedikit manusia yang mampu melihat keberadaan mereka..., dan sebaliknya.
Meskipun demikian..., ketidakmampuan manusia melihat mereka bukan berarti mereka tidak ada. Mereka hidup bersama manusia dalam ruang yang sama.
Mereka bisa hidup di rumah..., pepohonan besar..., telaga..., lautan..., dan tempat-tempat lainnya.
Meskipun manusia tidak bisa melihat mereka..., jika batin peka manusia bisa merasakan keberadaan mereka..., energi mereka.
Kita tak layak memusuhi mereka.., mengusir mereka. Mereka sudah hidup di bumi terlebih dulu sebelum manusia..., sudah menempati suatu kawasan sebelum manusia menjajahnya.
Tapi sering kali kita mengusir mereka..., membenci mereka..., takut melihat mereka.
Bukankah itu tidak sopan sama sekali...? Kita takut mereka..., karena mereka berbeda dengan kita.
Kita merasa rupa mereka jelek..., karena berbeda dengan rupa kita,
Tidakkah kita pernah berpikir..., bahwa wajah kita pun jelek di mata mereka..., karena berbeda dengan wajah mereka..., sehingga mereka pun takut kalau ketemu kita....?
.
Sekali lagi..., ketidakmampuan kita melihat mereka..., bukan berarti mereka tidak ada.
Kita bisa merasakan kehadiran mereka. Kalau kita tidak menghormati keberadaan mereka..., membenci mereka..., mengusir mereka dengan mendatangkan dukun..., pemburu hantu..., atau membacai mereka Ayat Kursi dengan niat mengusir..., menghancurkan rumah-rumah mereka di hutan atau tempat-tempat keramat..., mereka pasti akan merasakan sikap permusuhanmu.
Jika kita dimusuhi seseorang..., kita pasti sedih dan melawan kan...?
Demikian pula mereka. Mereka terganggu. Mereka bersedih. Mereka marah.
Apa jadinya jika banyak di antara mereka marah..., bersedih..., terusir dan terlunta-lunta....?
Energi di sekitarmu akan memburuk dengan energi kesedihan dan kemarahan mereka.
Orang-orang yang lemah di antara kita akan mudah diganggu..., atau dirasuki mereka yang kedamaiannya terganggu.
Jangan salahkan mereka. Kitalah yang salah. Kita telah berubah menjadi setan..., yang semena-mena dan mau menang sendiri.
.
Di masa lalu..., leluhur kita menghormati keberadaan mereka..., karena mereka tahu bahwa mereka hidup berdampingan dengan banyak makhluk halus.
Banyak cara leluhur menghormati keberadaan mereka. Beberapa di antaranya adalah dengan memelihara kawasan-kawasan keramat..., seperti hutan-hutan lindung..., pepohonan besar.., punden-punden, yang menjadi rumah mereka.
Juga memberikan sesajen kepada mereka berupa kemenyan dan bunga-bunga..., karena mereka suka wewangian.
Sebetulnya bukan soal sesajen itu yang terpenting..., melainkan energi baik yang kita pancarkan pada mereka.
Pemberian sesajen itu tidak berarti serta-merta leluhur menyembah dan mengabdi pada mereka..., melainkan sebuah upaya menghormati keberadaan mereka.
Ini yang sering disalahpahami. Kita dengan mudah menyebut tindakan itu dengan sebutan syirik.
Kita tidak tahu maksud leluhur..., dan yang lebih celaka..., kita tidak tahu makna syirik yang sesungguhnya.
Bukankah kita khalifah.., pemimpin di muka bumi ini...?
Kalau kita merasa menjadi khalifah..., makhluk paling keren di jagat raya..., bukankah seharusnya kita mengasihi siapa saja yang hidup bersama kita....?
Memakmurkan bumi yang kita tempati ini...?
Jika kita bisa bersikap bijak..., insya Allah tanah tempat kita hidup tidak akan menjadi gersang dan tak nyaman seperti yang saat ini banyak kita jumpai.
Hormati keberadaan mereka..., tapi jangan sampai terjerumus ke dalam penyembahan dan pengabdian kepada mereka.
Itu saja....? Ya...
Rahayu...

Comments

Popular Posts