Makna Pemakaian Keris Jawa
PEMAKAIAN KERIS UNTUK PRIA JAWA
Keris memang benda yang penuh filosofi, baik dilihat secara isoteri maupun esoteri.
Cara penggunaan dari sebilah kerispun ada tata cara yang perlu dipedomani. Pada masa damai, keris umumnya diselipkan di pinggang, berbeda dengan pada masa perang, keris diselipkan di bagian depan tubuh yang menunjukkan sikap kesiapsiagaan atas apa yang akan terjadi pada perang tersebut.
Keris memang benda yang penuh filosofi, baik dilihat secara isoteri maupun esoteri.
Cara penggunaan dari sebilah kerispun ada tata cara yang perlu dipedomani. Pada masa damai, keris umumnya diselipkan di pinggang, berbeda dengan pada masa perang, keris diselipkan di bagian depan tubuh yang menunjukkan sikap kesiapsiagaan atas apa yang akan terjadi pada perang tersebut.
Pemilihan
warangka yang digunakan pada masa damai dan perang juga berbeda. Pada
masa damai, warangka ladrang banyak dipakai, sedangkan warangka gayaman
yang lebih sederhana banyak digunakan pada masa perang karena alasan
kepraktisannya.
Lebih lanjut, posisi pemakaian keris dapat digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
1. Klabang Pinipit
Merupakan posisi memakai keris yang benar di Yogyakarta. Di Surakarta, posisi penggunaan keris seperti ini disebut dengan “ngogleng”.
Pada pemakaian dengan posisi ini, dikenal dua istilah lain, yatu “mangking” dan “netep”. Posisi “mangking” dirasa kurang pantas untuk dipraktekkan dimana gandar berada di sebelah kiri tulang punggung. Sedangkan posisi “netep” adalah jika warangka menyentuh sabuk, posisi ini juga dirasa kurang pantas dipakai karena dianggap bermakna berani kepada siapapun.

2. Ngewal
Posisi pemakaian keris ini banyak digunakan oleh prajurit yang bersenjatakan pedang dan para penari Klana Gagah gaya Yogyakarta.

3. Satriya Keplayu
Posisi memakai keris ini dikenal juga dengan istilah “lele sinundukan”.
Posisi ini dipraktekkan saat seseorang melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak, namun pemakaiannya dianggap kurang sopan karena terkesan akan mbalela terhadap penguasa.
Jika letak gandar keris berada di sebelah kanan tulang punggung disebut “ngogleng”, atau “ngongleng methit” di Surakarta.

Lebih lanjut, posisi pemakaian keris dapat digolongkan menjadi beberapa macam, yaitu sebagai berikut:
1. Klabang PinipitMerupakan posisi memakai keris yang benar di Yogyakarta. Di Surakarta, posisi penggunaan keris seperti ini disebut dengan “ngogleng”.
Pada pemakaian dengan posisi ini, dikenal dua istilah lain, yatu “mangking” dan “netep”. Posisi “mangking” dirasa kurang pantas untuk dipraktekkan dimana gandar berada di sebelah kiri tulang punggung. Sedangkan posisi “netep” adalah jika warangka menyentuh sabuk, posisi ini juga dirasa kurang pantas dipakai karena dianggap bermakna berani kepada siapapun.

2. Ngewal
Posisi pemakaian keris ini banyak digunakan oleh prajurit yang bersenjatakan pedang dan para penari Klana Gagah gaya Yogyakarta.

3. Satriya Keplayu
Posisi memakai keris ini dikenal juga dengan istilah “lele sinundukan”.
Posisi ini dipraktekkan saat seseorang melakukan aktivitas yang membutuhkan banyak gerak, namun pemakaiannya dianggap kurang sopan karena terkesan akan mbalela terhadap penguasa.
Jika letak gandar keris berada di sebelah kanan tulang punggung disebut “ngogleng”, atau “ngongleng methit” di Surakarta.

4. Munyuk Ngilo
Posisi ini dipakai oleh prajurit yang sedang bepergian atau berkelana. Selain itu, prajurit yang menggunakan bedhil sebagai senjata juga menggunakan posisi ini.

5. Nganggar
Dipakau untuk bepergian dan para prajurit Daeng.

6. Nyothe (A)
Dipakai saat naik kuda atau kendaraan.
Posisi ini dipakai oleh prajurit yang sedang bepergian atau berkelana. Selain itu, prajurit yang menggunakan bedhil sebagai senjata juga menggunakan posisi ini.

5. Nganggar
Dipakau untuk bepergian dan para prajurit Daeng.

6. Nyothe (A)
Dipakai saat naik kuda atau kendaraan.
7. Nyothe (B)
Dipakai oleh para resi, ulama atau pendeta.
Dipakai oleh para resi, ulama atau pendeta.
Salam Budaya
Rahayu
Rahayu
SALAM BUDAYA
RAHAYU

Comments