*Huru Hara Diri*
Dalam benih air yang nampak di depan mata ini sharusnya tak berharap untuk kita kembali menjaga ini untuk kita kembalikan ke anak cucu kita nanti. Dalam sudut pandang yang jauh banyak sekali hal-hal yang hingga saat ini tentunya akan mengancam kepahitan di suatu hari nanti, lalu saat ini kita bisa apa, kita melakukan hal apa? Yang bisa kita bawa dalam masa depan kekhawatiran dini hari dan juga prasangka saat ini memang menjadi sebuah pertanyaan besar yang pada akhirnya akan mengancam terhadap keyakinan serta kesungguhan kita bahwa suatu saat nanti adalah kehendaknya yang akan kita kehendaki dari hari ini. Jika boleh melihat sedikit ke arah beberapa mereka tentunya mereka sudah ingin mencapai dalam apa-apa yang akan dia kehendaki, ya memang kekhawatiran yang semakin menggojang gajingkan fikiran serta perasaan namun jika memaksa maka dampaknya tidak sempurna. Maka dalam sebait kata yang tersirat tak apa lah jika semua di mulai dari rasa sakit bahwa semua ini akan berakhir, hidup ini akan berakhir dan semua akan berakhir sesuai dengan imajinasi yang kita temui.
Hidup yang bahagia? Hiduap yang apa adanya? Hidup yang seperti apa? Apa si yang akan engkau raih dalam hidup ini?
Jangan ngasi garam di laut jangan menimbun tanah di gunung sebab manisa punya daya apa?
Manusia punya hidup yang seperti apa sehingga semua ada dalam imajinasinya apa semua fikiran harus di nyatakan lewat lampiasan dunia. Lalu kenapa kita harus peduli dengan orang, emang orang ngasi makan kita? Lalu mengapa kita menolong mereka?
Kembalikanlah dalam benak diri bahwa kita menghidupi orang maka nantinya kita bakalan dapat penghidupan dari oang lewat orang lain sebab semeata bekerja demikian.

Comments