*Dibawah teduhan payung hitam dalam sangkar kebaikan*
Jangan kau jadikan duka menjadi lara, sebab yang kemudian tumbuh akan tetap menjadi peneduh diantara hujan yang mungkin sejak sekian lama menjadi jalan yang menyelimuti sekujur tubuh. Diantara lara yang menjumpainya bukan menjadi sebab kenapa akhirnya ia telah sekian lama manjalankan kebailan-lebaikan dan kasih sayangnya. Bukankah diantara banyaknya hiruk pikuk perjalanan itu hendaknya tuhan mengajak untuk kembali dan menghadap ke padanya atas jalan panjang yang telah di lalui. Kesediahan, amarah, keihlasan bahkan kasihsayang telah terpancar lewat kebaikan yang kemudian menyelimutinya. Maka ikhlaskankah atas kepergian yang menggenanginya kepergian yang menyelimutinya meskipun kau tak paham denganya, akan tetapi kesedihan serta kebailan yang telah terpancarkan aku ikut serta mendengarkanya.
---
Lewat kepergianmu seyogyanya menjadi pandangan serta menjadi sudut yang kemudian bisa tertanam dalam setiap bait-bait kata olah kita yang masih akan tetap berjalan menjemput cahaya-cahaya baru dengan berbagai kebaikan yang akan terus meneduhi sepanjang jalan sampai akhir hayat. Dengan bergulirnya waktu yang diam-diam memaksa kita untuk kemudian kembali dengan membekas pada seluruh saudara-saudara yang tersayang dengan tetesan tangis dalam kelembutan, dengan hembusan angin yang berhembus dengan kencang lalu kemudian melepaskan dengan keihlasan yang memaksa untuk membekas dalam jiwa. Meski masih banyak canda dan tawa yang tetap membekas bak jiwa yang kemudian terkuras kosong untuk mencoba merasakan peneduhanya.
Selamat jalan
Utang rasa
Pepen Wahyudi bin mamat Rachmat

Comments