Kesadaran dalam kebangkitan perjuangan
Desa kota hutan dan kekebalan
Di antara gelap gulita jejak kaki mereka menapaki dada ini
Seakan cerahnya kegelapan itu mencoba menyongsong
Dahi dalam kobaran dada ibu Pertiwi
Gembala suci menghiasi pohon-pohon dan batu bara dalam sekejap patriotika untuk semesta
Meski cerahnya hari yang memeluk kehangatan setiap malammu hingga semerbak yang memikat kenikmatan atas pabrikmu
Sampaikanlah kesadaranmu atas cekaman kemunafikanku...
hingga di antara secercah harapan yang kini mencoba mengingatmu atas apa yang terjadi di hari ini waktu itu
Suara-suara meriam menerkam corong jelita dengan tetesan darah di antara malam itu
Ibu pertiwiku sebagaimana lagi cinta kasihmu harus kubalas, dengan kekuatan yang saat ini kau alami Indonesiaku
Insinyur Soekarno berpesan
"Beri aku sejuta orang tua
Niscaya kucabut Semeru dari akarnya
Beri aku sepuluh pemuda
Niscaya ku goncangkan dunia
Pesan itu melambai-lambai untuk bangkit dalam kegelapan yang mulai mengikis
Mengikis batu nisan atas nama jejak-jejakmu dalam perjuangan itu
Sebagaimana mana lagi
Aku menyuarakan darahmu yang menetes atas perjuangan itu?
Bagaimana aku melahirkan pelita-pelita
Juara yang menyongsong dalam aksa?
Bagaimana kobaran kemerdekaan bergejola dalam setiap dada kita
Bagaimana garuda itu tetap menopang jeritan asa atas nama Indonesia raya
Semenjak proklamasi itu di kumandangkan
Semenjak jeritan asa di hentikan
Semenjak goresan darah air mata
Semenjak diri ini memaknai perjuanganya
Lalu merdeka seperti apa lagi yang kau inginkan
Mariah kau tenamkan dalam diri
Kesadaran perjuangan untuk bangkit
Bangkit atas jendela merah putih yang membara
Tanah air dalam segenggam asa
Sunyi itu membelai dahi tanah air
Senyap itu memeras keringat dingin
Dalam kebangkitan
Lalu merdeka mana lagi yang kau inginkan
Perjuangan apa lagi yang kau harapkan
Pesan itu tersampaikan dari lubuk dermaga yang membeli nafas kemerdekaan
Lambaian tangan dingin mereka meramba dalam setiap doa mereka, sujud mereka
Atas kemaslahatan bangsa dan tanah air
Atas nama Indonesia raya
Panundaan 17 Agustus 2022
Merdeka!
Merdeka!

Comments