#senyawa-senyawa tentang perenungan#

Kadang aku bingung di keadaan hari ini dan memang aku memilih jalan ini atas sebab aku mencintainya, namun banyak sekali kekangan batasan hingga ujian yang harus aku hadapi. Entahlah ini dapat di sebut sebagai sebuah proses atau ini adalah sebuah tantangan untuk mencintai, lalu aku harus membuang egoku sedalam-dalamnya untuk menghilangkan berbagai sebab atas keinginanku, aku nggak berharap apapun tentang ini semua, yang aku harapkan hanya mencintai dengan tulus.

Dari awal kita memulai untuk konsisten hingga saat ini berjalan mungkin aku telah menghilangkan diriku yang semula penuh dengan kebebasan, penuh dengan fikiran keresahan namun sampai hari ini akhirnya aku menemukan sebuah titik yang baru akan bagaimana sejujurnya seseorang mencintai dengan tulus, dengan ikhlas, dengan penuh pujaan yang tak tergantikan.

Toh selama berjalan ini seakan aku yang membutuhkannya sehingga aku harus ikut dalan ranah kehidupannya, memang tak mudah untuk seseorang yang kemudian hidup dan menyatu dengan keluarganya bahwa hakikatnya yang kita cintai dan sayangi bukan keluarganya melainkan dirinya. Namun sangking sayangya dengan dirinya sehingga bagaimana keluarganya ditelan juga untuk dapat hidup bersama keluarganya.

Bandung dan rumahnya seakan pandangan yang berbeda selama aku hidup di dunia, bahwa dalam menjalani kehidupan ini tak ada apa-apa kecuali apa yang telah di suruh olehnya, kurangnya perenungan dalam diriku mungki menjadi sebab kenapa akhirnya diriku menjaub dari apa yang selama ini aku rasakan. Bahwa aku di besarkan dengan latar belakang keluarga yang sama sekali tak pantas untuk di sebut keluarga, namun nyatanya aku bisa hidup meski tidak hidup diatas keluarga yang sejujurnya.

Aku ngerasa tak tau untuk memilih jalan yang seperti apa kedepan, menemukan tumbuhan-tumbuhan yang akan menaungi hidupku, yang jelas hidup ia sudah terarah tinggal eksekusi lalu menikmati.
Namun aku masih belum paham dengan kekangan ini, aku masih sedikit minder dengan berbagai capaian yang selama ini ia raih, namun mungkin sedikit banyak perjuanganku tak meredupkan keminderanku.

Kadang-kadang sempat berpikir apalah yang di sebut dengan mencintai yang sesungguhnya adalah mengikhlaskan?
Semua itu belum bisa aku temukan dengan keyakinan yang selama ini aku pahami, namun yang masih terngiang di dalam lubuk hati bahwa sebagian mana engkau mencintai makan sebagaimana pula engkau merasa tidak berkorban meski isinya hanya pengerobanan.

Comments

Popular Posts