Surat cinta dari corona
SURAT CINTA DARI CORONA
Yang tercinta manusia,
Sebelumnya aku minta maaf. Aku datang hanya menjalankan tugas Ilahi. Kalaupun kalian meninggalkan dunia karena aku, sungguh itupun sudah tertulis di Lauhul Mahfudz (pohon takdir). Aku hanya sebuah sarana saja. Sarana bagi kalian untuk menemui Yang Maha Cinta. Bukankah seharusnya kalian bahagia?
Lihatlah. Ketika kalian tidak lagi berkendara menuju kantor, sekolah dan tinggal di rumah. Bumi tidak begitu sesak dengan asap kendaraan. Kalian juga lebih dekat dengan keluarga. Membantu anak mengerjakan tugas sekolah. Membantu pasangan kalian mengerjakan pekerjaan rumah. Bukankah begitu indah?
Aku sungguh senang kalian sekarang lebih peduli dengan kebersihan. Lebih sering cuci tangan dengan sabun.
Kalian juga saling beribadah bersama di rumah. Membaca kitab suci kalian bersama keluarga tercinta. Atau bernyanyi bersama untuk mengisi waktu. Sebelumnya mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah. Karena kehadiran aku, hal itupun tercipta.
Di malam hari kalian merenung. Betapa kecil dan tak berarti apa-apanya diri kalian. Kalian sadari itu. Kesombongan yang ada pun runtuh oleh mahluk seperti aku. Yang hanya berukuran nano meter. Kalian pun lebih sadar akan Sang Maha Kuasa.
Sikap peduli kalian pun muncul. Meskipun ada social distance Dan tidak bisa pergi ke mana-mana, namun lewat jari dan hape, kalian bisa mengirim donasi. Saling membantu kepada yang membutuhkan. Padahal tadinya mungkin kalian kurang peduli, bahkan cuek. Namun karena merasa sama-sama menderita, jiwa sosial itu muncul.
Saat rumah-rumah ibadah ditutup, kalian baru sadar. Bahkan bertanya, kapan terakhir kali mengunjungi rumah ibadah. Ya, Tuhan sedang menegur kalian lewat kedatanganku. Tuhan kangen banget sama kalian. Kangen curhatan kalian.
Aku tidak ingin kalian berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah kepada Nya. Surat cinta dariku ini hanya ingin kalian sadar. Dunia ini hanya sementara. Tempat persinggahan. Bukan tujuan. Rumah kalian yang sesungguhnya adalah kampung akhirat. Jadi jangan sedih kalau kalian dilarang pemerintah pulang kampung gara-gara aku, itu belum seberapa. Perbanyaklah investasi akhirat, bekal untuk pulang kampung yang abadi.
Berkat kesadaran akan sementaranya di dunia, kalian tidak lagi saling menyalahkan. Justru kalian naik level. Dari yang tadinya problem finder (penemu masalah), menjadi problem solver (penyelesai masalah). Saling bergandengan tangan, bersatu untuk melawan aku. Jujur, aku senang.
Salam dari teman-teman virus yang lain untuk kalian. Kalian beribadah dengan cara kalian dan kami bertugas, beribadah dengan cara kami sebagai virus. Sampai jumpa..
19 Maret 2020
TTD,
Virus Corona bin Covid-19
Yang tercinta manusia,
Sebelumnya aku minta maaf. Aku datang hanya menjalankan tugas Ilahi. Kalaupun kalian meninggalkan dunia karena aku, sungguh itupun sudah tertulis di Lauhul Mahfudz (pohon takdir). Aku hanya sebuah sarana saja. Sarana bagi kalian untuk menemui Yang Maha Cinta. Bukankah seharusnya kalian bahagia?
Lihatlah. Ketika kalian tidak lagi berkendara menuju kantor, sekolah dan tinggal di rumah. Bumi tidak begitu sesak dengan asap kendaraan. Kalian juga lebih dekat dengan keluarga. Membantu anak mengerjakan tugas sekolah. Membantu pasangan kalian mengerjakan pekerjaan rumah. Bukankah begitu indah?
Aku sungguh senang kalian sekarang lebih peduli dengan kebersihan. Lebih sering cuci tangan dengan sabun.
Kalian juga saling beribadah bersama di rumah. Membaca kitab suci kalian bersama keluarga tercinta. Atau bernyanyi bersama untuk mengisi waktu. Sebelumnya mungkin jarang, atau bahkan tidak pernah. Karena kehadiran aku, hal itupun tercipta.
Di malam hari kalian merenung. Betapa kecil dan tak berarti apa-apanya diri kalian. Kalian sadari itu. Kesombongan yang ada pun runtuh oleh mahluk seperti aku. Yang hanya berukuran nano meter. Kalian pun lebih sadar akan Sang Maha Kuasa.
Sikap peduli kalian pun muncul. Meskipun ada social distance Dan tidak bisa pergi ke mana-mana, namun lewat jari dan hape, kalian bisa mengirim donasi. Saling membantu kepada yang membutuhkan. Padahal tadinya mungkin kalian kurang peduli, bahkan cuek. Namun karena merasa sama-sama menderita, jiwa sosial itu muncul.
Saat rumah-rumah ibadah ditutup, kalian baru sadar. Bahkan bertanya, kapan terakhir kali mengunjungi rumah ibadah. Ya, Tuhan sedang menegur kalian lewat kedatanganku. Tuhan kangen banget sama kalian. Kangen curhatan kalian.
Aku tidak ingin kalian berterima kasih kepadaku. Berterima kasihlah kepada Nya. Surat cinta dariku ini hanya ingin kalian sadar. Dunia ini hanya sementara. Tempat persinggahan. Bukan tujuan. Rumah kalian yang sesungguhnya adalah kampung akhirat. Jadi jangan sedih kalau kalian dilarang pemerintah pulang kampung gara-gara aku, itu belum seberapa. Perbanyaklah investasi akhirat, bekal untuk pulang kampung yang abadi.
Berkat kesadaran akan sementaranya di dunia, kalian tidak lagi saling menyalahkan. Justru kalian naik level. Dari yang tadinya problem finder (penemu masalah), menjadi problem solver (penyelesai masalah). Saling bergandengan tangan, bersatu untuk melawan aku. Jujur, aku senang.
Salam dari teman-teman virus yang lain untuk kalian. Kalian beribadah dengan cara kalian dan kami bertugas, beribadah dengan cara kami sebagai virus. Sampai jumpa..
19 Maret 2020
TTD,
Virus Corona bin Covid-19

Comments