jejak rasa


“Semangat membara membasuh luka”
Di malam yang nampak dalam ini kutulis sebuah rasa yang kukira hanya sekarang ada, aku resah menyusun kata karna kukira tak ada yang membacanya.. sepotong rembulan ku lalap di malam yang begitu sunyi ini, tenang lelap dan riang. Di bawah genteng yang pernah kupijakkan rasa kebahagiaan. Aku tak yakin bahwa ini sebuah kedewasaan ataukah aku yang terlalu sibuk memikirkan egoku bahwa waktu yang lalu adalah kedewasaan. Banyak keburukan yang aku lakukan untuk senantiasa menuruti nafsuku, bahkan aku pun enggan bersujud di dekatnya. Rasa ini semakin dalam jika aku terlalu sibuk memikirkannya bahkan berjalanya waktu aku semakin tak yakin dengan hari-hari yang akan datang, di kesendrian aku rasakan di keramaian aku sepi atas banyak hal yang tak aku ketahui, jalan panjang dan banyak hal semakin aku sadari bahwa di depan sana masih banyak rintangan yang harus aku lalui dengan kenikmatan, sesekali membayangkanmu hadir di sampingku untuk cahaya yang gembira. Tapi apalah daya rasa dan pikiran yang meronta tak jelas arahnya. Kata ini semakin banyak dan semakin sedikit hingga tak jelas yang aku katakan, apakah mungkin tetesan kebahagiaan yang pernah ada akan kembali hadir menyelimuti hidup ini, sungguh tak jelas halusinasi tubuh ini dengan jaman yang memadai. Semakin hari sulit untuk menjadi jiwa-jiwa yang akan aku miliki, mau jadi apakah diri ini sehingga tak yakin akan suatu hari nanti. Tetapi rencana Tuhan lebih nyata, tapi apakah kenyataan itu akan aku rasakan sedangkan proses yang ada ini tak memadai untuk aku menyatakan rasa yang akan ada itu. Pernahkah kalian berpikir kata ini akan di bawa ke mana sehingga rasa keresahan yang semakin menggema, ah pusing ah anjing ah kau malah begitu. Banyak karya-karya banyak tulisan-tulisan yang sekian banyak sehingga tak bisa memahami aku dalam melalui prosesnya, apa karena kau yang tak serius dalam berproses, do.a-do,a sering kuucapkan meski aku enggan bersujud kedinginan serta malas bergerak tetap menyelimuti hidup ini. Namun penguat jiwaku hanyalah rasa syukur yang tak pernah berhenti menggema dalam jiwa ini, seakan rasa itu sudah menyatu dengan banyak hal yang telah aku lalui hari-hari lalu. Oh ibu jangan pernah punya penyesalan atas anakmu ini ibu, aku tak punya lagi rasa dan cipta yang menjelma menjadi jiwa ini selain sinar dan keseluruhan hidup ibu, aku bingung menjelma menjadi apa, aku bingung bekerja seperti apa, aku bingung berpikir laga. Memang nyata apa yang mas ikhsan seccoter katakan bahwa makin hari makin susah saja menjadi manusia yang manusia ataukah aku yang salah untuk menjadi manusia yang manusia. Hidup begitu indah ya saudara, banyak sekali hal-hal yang harus kita temui, banyak lagi hal-hal yang harus kita maknai, namun kembali lagi bahwa di jaman yang begini ini kita harus senantiasa menyadari tasa hal-hal baru yang kita semua, semoga kita semua senantiasa diberikan umur yang cukup agar bisa berkesempatan untuk ber darma bakti di negeri ini
Salam bahagia, salam semangat
@akarbunganusantara
Wonosobo 17 juni 2020

Comments

Popular Posts