ketika tetesan embun kering oleh mentari
Terimakasih atas segala wujud yang kita temukan dengan banyak gelombang yang mencoba bertahan diatas ombang-ambing kehampaan, keresahan, kegelisan dan masih segudang lagi kata untuk mengungkapkan semua itu. Tanpa sadar sudah ada lebih dari setengah tahun hingga aku menyapa lagi akhir tahun di tahun ini, tentunya dengan kemasan yang sedikit berbeda, dengan kehangatan yang pula sedikit berbeda. Saudara, sadarilah bahwa semakin hari itu hakikatnya relasi saudara yang dekat dengan kita akan sedikit berkurang meski tak ada masa atau bahkan jarak yang membuatmu melampiaskanya lha disitulah menangnya sadaramu yang sedarah. Meski ia merasakan bosan beribu-ribu kali tapi tetap mengadakan apa yang tidak ada meski tidak semua demikian yaa itulah gramatika kehidupan. Jalani, nikamati, dan syukuri memang pijakan yang tepat untukmu tetap merasakan kebahagian lewat lukisan senyuman. Dengan tulisan ini bisa kita jadikan acuan sebagaimana akhirnya tergambar sudut problematika hari yang akan datang, nah hal yanh tidak mudah memang untuk sadar akan beberapa hal tatkala kita memang belum merasakan imbasnya. Misalnya si jono punya bapak yang bernama hartanto si jono ini masih merasakan beberapa sudut yang ia kurang suka dengan bapaknya namun ruang kesadaran mungkin ia tidak sadari melainkan dalam kegelapan, namun percayalah bahwa jono akan merasa sangat menyesal ketiak bapaknya sudah di panggil oleh yang maha ku asa. Nah dengan penggalan cerita ini harusnya kita menjadi benar-benar sadar bagaimana gramatika hidup tercapai. Memang hal ini sangat sederhana bahkan juga di kemas dalam tulisan yang sangat sederhana. Namun percayalah bahwa kadang kala kesedarhanaan seperti inilah yang akan dapat membawa kita kedalam lubuk-lubuk kemaslahatan hidup.
Jaga mood, sing semangat,
Tuhan memberkahi.
@akarbunganusantara

Comments