Bias Putih
Bias putih menyelimuti lara
Di seujung gerbong yang kian kau pijaki menjadi sebuah sebab yang mana di samping kursi yang kau duduki ada segenggam bias hitam yang mencoba membasuhmu. Jika mereka tetap dengan genggaman hitam yang pekat akankah aku keluar dari gerbong ini sehingga mereka yang lain akan tetap terkena oleh goresan bias hitam dengan terus berjalan diatas rel yang mungkin kelihatan baik-baik saja. Akankah gerbong akan tetap berjalan sesuai dengan tujuan dengan aku loncat dari atas gerbong itu..
Namun setidaknya meski luka aku tetap lega dengan mempertahankan bias putihku agar tetap hidup, dan setidaknya rel itu agak ringan dengan ketiadaanku meski mereka butuh aku dan aku membutuhkanya, tapi bias putihku lebih bermakna jika hanya di perbandingan oleh goresan itu, karena memng bias ini yang akan membawaku dalam corong kebahagiaan bagai anak panah yang menyorong keluar dan terarah. Tuhan Terimakasih atas banyak sebab ini, stidaknya luka yang aku pendam ini kian tertanam dan tumbuh menjadi kuat yang akan meneduhi banyak orang, yang terpasti adalah gramatika ini memang menjadi pijakan yang bergoyang yang mengokohkan diri dengan tekat dengan senyuman pertanda gelombang keihlasan.
Hujan basuhilah luka ini agar tetap dingin dan bis tumbuh dengan sempurna dengan kekokohan yang tergores, yang pada nyatanya Mereka yang tanpa kata nyatanya ada yang di harapkan.
Mereka yang kadang banyak tanya nyatanya berat untuk melepaskan. Dan mereka yang mengetahui untukmu pergi Padahal sangat menanti untukmu kembali.
Tapi kitapun harus mengakui, bahwa hidup kita bukan ditentukan oleh orang lain. Kita berhak memutuskan apa yang terbaik untuk hidup kita. Kita berhak menjalani hidup yang kita miliki dan Sebaiknya diikuti oleh kata hati.
Sebab kebahagian bisa kita dapatkan dari diri sendiri, keluarga, rekan, dan lingkungan sekitar, dengan sebab itulah yang Seharusnya engaku masih melanjutkan perjalanan ini.
Terimakasih banyak.

Comments