*sebiji kertas untuk penyadap*
Dalam lautan senang ada henangan air yang tetap tenng dengan curitan goresan yang telah menyadap dalam hembusan air dengan dampak yang begitu sangat terombang ambingkan, meski telah ada telah usai dan telah menjadi sebujur rasa lelah yang mungkin sangat patut untuk di jadikan sebagai sebuah pembelajaran. Meski kini dan esok hari, meski nanti dan si akhir lusa ini. Embun ini meneteskan air kedalam hambarnya tanah dengan gejola riang yang mungkin suatu saat nanti menjadi dermaga dermaga yang akan dijadikan sebagai sebuah utaian tali dn utaian mimpi denga banyaknya halusinasi yang tak teebendung ini. Dalam gelap diatas remang-remang cahaya yang terang membuat mwngigik atas apa yang tekah selama ini aku lakukan. Atas apa yang selama ini di rasakan. Atas apa yang selama ini menjadi muara-muara atas dambaan yang kian menatap langit dan bergejola menjadi sepi. Terimakasih atas beberapa peran yang telah aku mainkan, Terimakasih atas beberapa proses yang kian telah menjadi sebab atas hangatnya gejola mimpi, atas hangatnya gejola imajinasi dalam setiap dambaan yang menggurangi hari. Di suatu saat nanti tuhan akan dengan kejutanya yang utamanya jika memang ini sesuai dengan kodrat akan terciota sebuah kepuasan melebihi puncak kebersamaan, melebihi puncak pemaknaan dalam rasa. Jangan khawatir semua akan baik-baik saja, peran tuhn lebih penting dengan dasar gerak kita.. Berjalanlah den temukanlah bangak lagi haluan-haluan yang mungkin akan membuatmu menjadi sebuah utaian tali yang menyambung panjang menghubungkan banyaknya dimenasi banyaknya imajinasi banyaknya capaian-capain menuju kedalam hakikat serta kemulyaan yang mungkin selama ini akan tetap menjadi sebiab pertanyaan bagi diri tetali jangan jadikan pertanyaan ini sebagai kekawatiran karena khawatir adalah manusiawi.
Terimakasih banyak semuanya
Aku bukan apa-apa.
@akarbunganusantara

Comments