*sepetak surat dini hari*

Semalam di atas uapan udara yang mendayu menjelma menjadi sepotong surat yang ada dalam pelupuk hati meski terkadang banyak sekali prahara yang trbubung jelas melawan kepraharaan ini dan rasa yang sedikit suram atas banyaknya pelor yang kian tak terbubung lagi, aku paham kekasih dengan apa yang aku rasakan dan entahlah kau paham atau tidak dengan apa yang aku rasakan.

Namun jiwa ini seakan menggoreskan dengan sendirinya bahwa dari sekian tulisan yang terbubung ini hanya satu yang aku yakini bahwa semua ini atas peran tuhan dengan goresan-goresan sesuatu di rasa ini, yaa meski terkadang dengan manusiawi kau begitu kejam namun kekejaman itu seakan begitu enggen teetutupi dengan rasa yang aku miliki bahwa aku percaya dengan kamu dan cukup sampai di situ.

Meski sekian banyak gejola yang membubung ini sekian menatap ke arah ratapan suyi diatas sengketa-sengketa hujan yang mencoba mengelabui dan seterusnya itupun tak begitu pasti, dan ketidakpastian itu seakan tak mampu untuk kemudian membuatmu mencoba menyelinap diatas keterlambatan semesta esok hari dan yang ke sekian hari lagi dan nanti.

Menyelinaplah dalam rasa, menyapalah dalam riang sebab apa yang aku alami ini hanya sebatas kepraharaan esok hari, hanya sebatas kelembutan yang kemudian mencoba aku hubungkan dengan banyak sebab, meski kemudian aku tak yakin dengamu itu hanya prasangka saja dan yang sesungguhnya aku enggan tau dengan apapun itu.

Karawang, 6-20-21

Comments

Popular Posts