*Sepetak Asmara dan Baik-baik Saja*
Dalam gejola waktu yang kada terkadang kita ingn segera, segera mendapatkan apa yang di imajinasikan sedangkan sebenranya hal apa yang kita butuhkanpun tidak semestinya menjamin untuk kehidupan yang di pahami dalam otak yang kemudian bergemara dalam baik-baik saja. Dalam sebab yang berikutnya kaupun juga paham untuk kemudian berdamai dengan apa yang telah engkau anggap baik-baik saja. dalam orasi kebudayaan pak Seno Gumilar Ajidarma "Kebudayaan dalam Bungkus Tusuk Gigi" telah menjadi sebuah kerangka sendiri atas kebenaran yang di pahami bahwa justru kebenaran yang di pahami bukan kebenaran yang hakiki, apa jangan-jangan hakiki bukan kebenaran?? semua tersangkar dari apa yang selama ini apa yang tidak kita pahami. Hal itu selaras dengan bagaimana proses otak menemukan sebuah kebenaran dengan sengketa kesna kemari yang mungkin selama ini tuhan diam-diam memberikan atas beberapa hal dari apa yang telah kita lakukan dan kitapun tidak mengetahuinya. Jika itu memang kebenaran yang nyata, mungkin hal itu menjadi segudang pertanyaan bahwa dari apa yang telah kita lakukan ini akan penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang kemudian menciutkan tekat, menciutkan kebiasaan-kebiasaan yang telah di lalui. Bawhwa sampai kapanpun kita tak akan tau seberapa dalam ia benar-benar mincintai sehingga dengan sebeb apakah kita yakin dengan hal itu, sebab yang bisa kita lakukan hanya sebatas yakin dengan hal-hal yang tidak meyakinkan, bahwa itu menjadi segudang busur dan juga arahan dari apa yang akan kita lontarkan menju itu.
Sebab dari banyak hal yang kita lakukan ini akan banyak pula hal-hal yang mungkin sedikit memberikan ruang perenungan untuk kemudian brtanya dalam diri seberapakah panatas kita dalam mencintai, seberapa dalam dan luaskan lautan itu akan tetap bergairah mengombak yang kemudian pantas menemui tepian pantai untuk kemudian di sapa kembali oleh kita yang mungkin sedkit bisa menyambutnya dengan banyak terpaan angin yang menggeliat dalam sepetak batu putih yang kemudian menjadi suatu tempat bermain untuk mereka yang tetap nyaman di sisinya. demikianlah lautan yang akan tetap riang meski kemudian banyak merekapula yang menebang pohon-pohon yang bercahaya untuk kemudian di kembalikan ke lautan tanpa hasil apa-apa. Jika demikian kenapakah tuhan masih tetap menciptakan manusia dengan sejuta gramatikanya, sebab itu semua tak bisa menemukan suatu tuitik kebenaran yang realistis dengan problem kesadaran ini. bahwa dunia ada pada sepetak keparadokaskan dari apa yang telah kita pahami.

Comments