*Semesta tak mengharap apa-apa*

Doa dalam sekujur tubuh membaluri hawa riang di atas rentan kesibukan yang kian mencoba membubung dalam kebahagiaan, kenapa demikian??
Kenapa manusia perlu bahagia, bekal apakah yang sejatinya di miliki oleh manusia ketika hawa sejuk yang memelukmu dengan keihlasan yang tuluspun sejatinya membuatmu tersenyum lepas meski dianggap hal itu akan ada di atas penderitaan. Ketika lamunan seonggok pisang membelaimu melumuri menjadi kertas merah yang kian di bawa dalam hawa yang sunyi hawa yang nyaman artas hal-hal semesta dalam ancaman..
Mari nikmati hidup untuk hari ini, sebab untuk hidup beberapa waktu yang akan datang bukan lagi jaminan kecuali kau sendiri yang mencoba membuat jaminan palsu untuk kemudian menjadi sepotong do, a yang di kirimkan dalam setiap helai nafas atau bahkan fikiranmu sendiri. Untuk detik kali ini rasanya ingin segera, entahlah segera apa dan itulah hanya sebuah fikiran kekhawatiran yang manusiawi, bahwa semesta semakin menggancam atas perlakuan sesama kita, atas apa-apa yang akan kembali ke dalam diri untuk kemudian di pertanyakan lalu direnungkan kemudian mejadi sebuah kepusingan, sebab semua ingin bahagia seperti apa yang mereka pahami lalu jiwa dan hati akan mencoba mengikutinya. Padahal menikmati secangkir kopi dengan udara yang sejukpun itu sudah cukup lalu mmengapa??
Yaaa demikianlah pangggung sandiwara, bahwa semakin kesini mereka semua seakan ingin terus bersandiwara untuk kemudian mencapai kebahagiaan yang sandiwara juga, entalhlah memang literasi dan pemahamnku yang sempit ini sehingga kemudian mencoba memahami sendiri bahwa kecerdasan dan kepintaran bukan jaminan dan jaminan itu sendiri bukan jaminan melaimkan hanya sebatas penantian yang perlu di sandiwarakan.

Jagakarsa, jakarta selatan, 
16.06.21

Comments

Popular Posts