KUTUNGGU KABARMU DI KOTAMU #Prolog

Pagi itu bersama keterlambatan bus yang akan mengantarmu ke kotamu membuatmu sedikit cemberut dengan keresahan dan persiapan yang sangat minim, begitu pun janji yang terungkap dalam mulutmu untuk kembali ke kotamu sebelum waktunya tanggung jawabmu di mulai. Selepas kau pergi bersama hempasan angin dan solar yang menerpaku hal ini memberikan kehampaan dan kekosongan jiwa dalam meratapi raut mukamu bersama bangku kosong yang ada di dalam busmu, serta sopir bus dan kernet yang tak peduli dengan itu. Meski dalam persimpangan itu aku sedikit tak konsen dengan kedatangan bus yang diam-diam sudah di depanku seakan ingin menabrakku, tapi rupa-rupanya aku yang terlalu tidak konsentrasi dalam persimpangan terminal itu dan masih tetap terbawa dengan kehampaan jiwa ini untuk tetap berada di sisimu. Begitu pun kau yang mungkin diam-diam di antara pagi buta bersama bangku bus yang kosong dengan semprotan angin ac yang semakin lama semakin dingin bersama tipisnya jaket yang memelukmu bersama lilitan lapar yang terus menggeliat karena tak ada sesuap nasi pun yang masuk dalam perutmu di antara pagi itu. Sepanjang perjalananmu pulang dan sedekat perjalananku pulang kita Sama-sama saling merasa, bahwa ada yang kurang di antara kita?
Rasa?
Cinta?
Atau siapa? 
Oleh-oleh atas perjalananmu? 
Atau kenangan yang mungkin masih terselinap dalam bantal dan kasur dan tertindih atas pulasnya tidurku? 
Entahlah.. 
Yang jelas Sama-sama terpikirkan tentang hal itu.


........


Lalu di antara rodamu yang berputar kesekian kau sempat mengirimkan pesan kepadaku, "aku pulang dulu yaa, aku mencintaimu". Pada saat aku membacanya sungguh seberapa luas dan dalam perasaan aku dalam menahan tangis dan rindu untuk kembali bisa memelukmu, bahwa pelukan di bus aku melihat matamu yang tak fokus kepadaku yang kemudian kau bergegas untuk kembali fokus terhadap handphone  dalam genggamanmu, mungkin dalam genggaman itu kau sedikit menuangkan perasaanmu agar tak larut dalam suasana itu. Namun yang menjadi tragis ternyata kita tetap sama, Sama-sama merasakan perasaan yang sama. 


...... 


Lalu selepas itu aku alihkan hal ini untuk kemudian melakukan hal yang lain, agar kemudian otak dan perasaan itu teralihkan agar tidak terlalu khawatir denganmu, namun yang menjadi tragis bahwa sebagaimanapun aku dalam mengalihkan perasaan itu, akan tetap tersalurkan walau lewat sejengkal atau bahkan sekelibat cahaya dalam pikiran diriku. Lalu kemudian kembali dengan dudukmu dalam bangku yang remang itu dengan segala hawa yang sama sekali tak pernah kau bayangkan bahkan rasakan. 
Semakin aku kembali dan kau semakin menjauh dariku, di antara dingin dan mengigil badan itu dengan keadaan riuh di luar bus, lalu di antara dingin itu diam-diam hujan turun menjumpaimu, meneteskan sejuta rasa dan hawa yang semakin memukul. 


...... 



Dalam perjalanan itu yang bisa ia rasakan hanya menahan lapar dan semakin menggigil atas hawa dan perasaan yang serba tidak mendukung, belum lagi dengan keterbatasan pergerakan yang tidak memungkinkan untuk istirahat dengan nyaman, namun dalam hal yang ke sekian yang bisa ia rasakan hanya bagaimana ia memaksa diri untuk tertidur meski dalam keadaan yang tidak mendukung. Mengigil hingga kerasa perih dalam rahim rongga perut yang kian memaksa diri untuk kemudian dapat pulang dan mengevaluasi perkara dia dan perkara diri yang kemudian berdampak dalam darah dan daging yang semakin menusuk tajam. 


Hingga dalam kabarmu terakhir setelah semuanya memaksa baik-baik saja kau mengirimkan pesan ;
1. Aku tadi pagi laper trus aku tahan dulu nunggu yg jual (ternyata gaada yg jual)
2. Pas makan ceker amis, ceker aku udah rada bau malah bikin enek
3. Makan oreo dikit
4. Gabawa minum
5. Aku sakit kepala mual
6. Aku masuk angin, ac dingin celana tipis
7. Aku paksa tidur
8. Aku kebelet pipis (udah bilang kondektur mau 5menit lagi sampai resto buat rest jadi suruh ditahan)
9. Cari celana legging rebook item di tas gaada malah bikin makin enek pusing ingin muntah sampe tas berantakan aku buka2in semua baju2nya gaketemu (asalny mau dipake biar ga dingin)
10. Aku pipis dengan lega
11. Aku pusing, maksain makan pake soto
12. Aku bayar bis 140 tapi turun di cileunyi naik angkot lagi 10k
13. Bis mulai penuh banyak org. Kiri aku dengerin youtube sule, depannya nyanyi2 pake headset sambil nerima telfon ngomong sendiri, depan aku ibu2 ngobrol bedua cekikikan
14. Gaada yg jual makanan
15. Tangan aku gemeter kedinginan lemes
16. Aku laper banget sampe kaki gemeter pas turun bis harus jalan dulu cari angkot hujan-hujanan. 

Bagaimana kabarmu ketika mendengar kabar kekasihmu demikian?
Masih pantaskah kau untuk tetap mampu menyapa Semangat diantara pagi dini har
Meski ia akan tetap menunggu kabarmu di kotamu. 

Roni Susilo 13 February 22

Comments

Popular Posts