*Dibalik Noda Hias Beliam*

Tak tau noda hias itu menyangkar dari mana.. Tatkala guyuran angin ini mulai menghempasi hawa dalam setiap prasangka, dalam setiap diam mampun hawa dalam berdo'a yang kemudian membelai dahi puting dalam kehangatan.
Kecemasan dan menjejak membangun prasangka yang mungkin kian menghitam lalu bernyala atau bahkan berdaulat atas kekebalan hasrat dalam menempi di dalam riang elok hari dan menyapa bak bunga dalam kelam seperti halusinasi diantara mimpi pagi, seperti sengketa dini hari dan elok di lusa nanti.
Sudut pandang ini mungkin telah terasa diantata kita, dan kemudian membangunkan asa yang sedikit menyapa lusa atas genangan sunyi dalam kelam, entahlah memang demikian jalanya dan percayalah bahwa kemudian tuhan akan memberikan setonggok nyala asa atas dermaga suyi yang kemudian bernyala diantara bibir ini diantara lelap-lelap yang mungkin kian tak tersampaikan oleh hawa atau bahkan tak tersampaikan oleh setonggok bak bunga yang kian mendiami dermaga suyi atas sebab dini hari, sampaikanlah pada seputik daun bahwa diantata kepalsuan itu hidup ini akan tetap bermyala meski di telan mentari yang mencoba bermyala diantara dini hari. Bersemailah dengan daun-daun yang bergemuruh menggema sepi menghempas asa atas bak bunga dini hari.
Memyapalah pada bintang, melayanglah pada sepotong hiasan untuk kemudian menyinari mimpi dan tenggelam diantara gorong-gorong hijau memerah menebar pada kehalusan dalam membagikan sengketa dini hari.
Bersahabatlah dengan segala sebab, menyapalah atas banyak sebab dan tersenyum atas angan-angan lusa nanti, tetap di sini dan kian terus bernyanyi, tetap lelap dan terus menyapa, bahwa hujan akan menjadi hiasan, dan bahwa gelap akan tetap menjadi haluan..
Bahwa demikian akan berjalan seperti apa dan bagaimana jalanan ini terua menyapa embun dini hari
Tetapi begini walau apa-apa begitu
Karena begituitu ya begutu dan begini ini dan seterusnya. 

Comments

Popular Posts