manusia lebih sampah dari?

Sampah dan cerita malapetaka yang akan datang. Sudah sejak sekian lama kita sadar bahwa dalam menggunakan kemasan apa pun itu pada nantinya akan tidak kita manfaatkan lagi, dari satu bungkus cilok yang kita makan bersama-sama untuk memenuhi kebutuhan hidup tentunya akan berdampak baik dari segi ekonomi maupun lingkungan. Pada dasarnya ekonomi yang sehat adalah ia yang dengan sadar mempertimbangkan banyaknya aspek yang akan terjadi. Jika malapetaka datang di antara hujan bulan ini maka kepada siapa lagi kita akan menyalahkan atas banyaknya pengorbanan harta benda maupun jiwa yang akan melayang begitu saja. Banyak sekali isu-isu yang membicarakan persoalan sampah, banyak sekali orang-orang yang sadar akan dampak sampah, namun sedikit sekali dari kita yang pada akhirnya akan mempertimbangkan lagi banyaknya kebutuhan yang akan mengandung sampah. Ada asumsi yang membicarakan terkait dengan persoalan kali Ciliwung yang sudah bertahun-tahun akan mengancam berbagai tempat yang ada di kota jakarta terkait dengan Banjir, namun sedikit pula di antara mereka yang kemudian sadar lalu mengubah berbagai cara atas ancaman yang akan terjadi.

Bahasan mengenai sampah seringkai saya ucapkan dalam setiap bahasan diskusi yang kami lakukan, bahkan opini saya juga pernah mengucapkan bahwa sebenarnya tidak ada sampah jika kita sadar, bahwa sebenarnya tidak ada hal yang tidak lagi bisa digunakan jika kita sadar. Sebab jika harus terus menyuarakan beberapa pihak yang menjual barang dengan kemasan maka diampun hanya akan mempertimbangkan kebutuhan ekonomi terkait dengan untung dan rugi, atau mungkin dengan sadar ia melakukan inovasi demi mempertahankan produk sampai ketengan konsumen agar lebih baik lagi sehingga dengan sebab ini masyarakat mau tidak mau tetap harus membelinya. Kesadaran lain pernah saya temukan pula dalam sebuah film dokumenter yang menurut saya sangat bagus yakni Pulau Plastik. Dengan adanya film ini banyak sekali ruang-ruang kesadaran saya yang semakin menguak, semakin muak dengan banyaknya aspek atas sampah yang sudah ber abat-abat tak kunjung usai. Lalu dengan cara yang bagaimana lagi kita menyadarkan ke pemerintahan atau bahkan perusahaan yang dengan sadar menguatkan kemasan-kemasan produk demi ekonomi yang dibilang kreatif.

Dibalik semua ini yang pada hakikatnya paling bisa menebar berbagai kebaikan dan kesadaran atas semua ini adalah alam itu sendiri dengan berbagai ancaman yang terbilang tidak lagi bisa menahan muak dan bergulirnya kebutuhan masyarakat yang pada nantinya akan merujuk terhadap prahara atas kepiluan alam yang semakin hari diberikan ancaman oleh manusia itu sendiri. jika kita sadar lagi bahwa pada hakikatnya manusia dan alam adalah satu kesatuan yang tak mungkin dapat di pisahkan, bahwa alam adalah bagian dari manusia, bahwa alam tak butuh manusia demi keutuhannya. Namun dengan banyaknya persoalan ini akan sampai kapan lagi persoalan ini dapat selesai di negeri ini, sampai kapan lagi aku dapat melihat alam dan manusia kembali utuh tersenyum dan saling menguntungkan? apakah memang negara ini ditakdirkan untuk diberikan suatu cobaan yang sedemikian itu, Lihatlah lautan yang luas, lihatlah dalam setiap helai beberapa barang yang kamu konsumsi. apakah sudah selayaknya dapat memberikan keseimbangan alam dan manusia yang tepat, apakah ternyata manusia tidak bisa mengontrol yang membuat dia hidup, yakni bagian tubuhnya? apalagi alam yang membuat ia dapat hidup.

Sadarlah wahai manusia semata, begitu pun aku yang terkadang kuang bijak dalam mengelola semua ini. merilah kita sadari bahwa alam ini bagian dari kita yang sudah selayaknya patut kita jaga yang sudah selayaknya menjadi bagian dari diri kita, bahwa alam adalah bagian lain dari tubuh kita namun alam adalah kita.

Comments

Popular Posts