darah bercucur dan melebur
Dirumah ini, di ranjang ini, ku lebur luka dengan seenggam pikiran yang terus mencoba menusuk hati ini. Genggaman ceritamu hari ini meneteskan pedih di hati, pedih di jejak-jejak yang telah kita ukir bersama. Terangnya kamar ini seakan semakin menyuramkanku untuk terjun dari gedung berlantai FBM dengan setenggang gedang klutuk yang aku cicil. Darah dan rasa sakit iku seakan menghilang, melebur dalam kepedihan yang tercipta lewat bajagiamu dan sakitku di hari ini.
Pejaman sorotan matamu memikat kerangkeng fikiran liar dengan jiwa yang tunduk dalam rasa sakit yang tak berdarah
.
Salahkah aku jika melarang kebahagiaanmu? Salahkah aku jika memberikan pandangan bahwa kau juka tak ingin merasakan sepertiku. Denyut nadi dan detak jantung ini seakan berkobar dengan kencang, berdetak terlepas dari porosnya, memikat sengketa yang berjalan dengan debu-debu yang bercucuran lewat hilangnya diriku di dalam diriku.
Aku swlalu tabah dan kuat menghadapimu, menghadapi kelugamu, menyiram bunga yang tercecah oleh panasnya mentari. Hilangnya tawamu di depanku. Raut wajahku yang tak mempedulikanku. Rahim ibumu adalah asal, kaki ibumu adalah isi, airmatanya adalah kekuatan dan petaka bagimu. Berat untuk aku bisa meninggalkannya dengan segudang hal yang dia hadapi.
Memikat darah dan tulisan yang aku selipkan di dalam coretan dengan dampingan kekhawatiran atas kehendak yang akan ia berkian kepadaku, atas kesucian hati ini yang akan aku tebus menjadi satu, melebur dalam stiap gerak dan umpan di dalam dorongan waktu yang telah sedemikian rupa datang.
Terimakasih untuk rasa sakit ini.

Comments