Keringat dalam Tetesan Air Mata

 Sepetak sengketa merajalela dalam seikat kenangan yang tak pernah engkau menemukan jawaban. Menebar kisah dan kesedihan diatas deritaan dalam kesendirian dan tak menjadi apa-apa. Nafasmu ini, mungkin belum bermakna dimata siapapun, tapi meski demikian tak bolehlah engkau terus berproses untuk tetep berkembang dalam segala hal yang akan menjawab segala bentuk kisah yang terjalin di atas jemari ini. Kehilangan arah ini mungkin sudah menjadi hal yang tak aneh dimata proses seseorang. Terlepas dari berbagai keinginan dan cita-cita yang hebat dimata siapapun yang melihatnya.

Maaf Ibu, Maaf Bapak. Tangisku di pagi ini mungkin tidak terasa olehmu, tentang kekhawatiran, tentang kasih sayang, rasa, dan tentang cinta. Kusematkan kekhawatiran hati ini yang entah sampai kapanpun akan aku rasakan. Maafin aku yang belum bisa membuat engkau bangga, bisa mengangkat derajat kalian berdua. Jujur kebanggaan itu tak pernah aku aku rasakan, namun dalam doa, dalam tangis yang menjerit di pagi hari itu kian terasa. Namun tetesan air mata yang jatuh pagi tadi setidaknya dapat memberikan ruang untukku lekas tumbuh dan berkembang atas evaluasi diri dan kekurangan diri.

Boleh kok kita sesekali menjadi lembah, tanpa daya, tapa gerakan bahkan sesekali menahan nafas untuk memilih pengakhiran hidup ini. Namun ingatlah bahwa itu adalah perasaan sementara yang setidaknya bisa merefleksikan diri untuk kemudian tetap berjalan melewati hidup ini dengan penuh kegembiraan. Sebab tak ada yang sia-sia tuhan menakdirkan kita hidup di dunia ini, setidak bergeaknya kita pasti ada nafas yang tersembuyi yang mungkin kita belum mengetahuinya. Boleh kok kamu merasa menjadi manusia yang paling gagal di dunia ini. Namun itu semua adalah sebuah perasaan sementara yang tak pautu engkau fokusin.

sampai diujung 

Comments

Popular Posts