Jenaka Senja

Senja dalam jenaka

Mentariku menarilah dalam pelukmu meski di corong telingamu tak lagi pilu hanya dalam satu goresmu, malam di kabut sunyi yang mengintari bibir nadiku ini mungkin hanya angan yang dapat aku gerakan dalam imajinasiku. Bahkan aku tak tahu lagi gerak seperti apa yang dapat lagi kutumbuh kan dalam hidup ini, ataukah hanya aku yang terlalu malas untuk menggerakkan semua itu. Sebatang rokok mulai kuhisap dengan dampingan secangkir kopi yang meledak dalam asap rokok itu, ke manakah lagi kepedulian atas harapan pikiran yang mengembang dan menjelma dalam tubuh melainkan gerak, aku tak memahami atas kalimatku sendiri yang melukiskan gerak atau hanya saja gerakan pikiran yang menggambarkan imajinasi manusia. Dasar bego dasar tolol aku, aku sadar bahwa nafsu dan ego ini terus menggebu aku sadar bahwa jalan yang tepat hanya bersujud di depanmu. Dalam kalimat yang jenaka ini kuselipkan senja agar ia bisa menyadari akan datangnya mentari pagi dan kabut sunyi itu, maka kemarilah berdirilah di bawah telapak tanganmu agar kau paham kalimat itu berapa persen kalimatmu yang bernilai, ataukah berapa persen dirimu melontarkan kalimat atas bacaan yang telah kau ucapkan, sungguh membuat jiwa ini lelah atas kesendirian, dambaan, dan kesadaran. Apakah ataukah mana lagi atas di mana kalimatmu ataukah hanya keterpurukanmu menerpa kehidupan sehingga resah dan tak sadar. Bagiku hidup bukan perkara menjalani menikmati dan memaknai, tapi sadarkah engkau dapat meyakini atas darma bakti yang telah kau lakukan dalam setiap detak hidup ini. Jalan ini yang kupilih jalan itu yang kau pilih maka jalan seperti apakah yang akan kau harapkan lagi dalam hidup ini, maksudmu jalan yang menepi dan berdiri ataukah jalan sunyi di atas imajinasi yang menggoreskan angin senja sehingga kau sadar dan paham akan eloknya hidup ini. Maka dengan jalan kesadaran ini marilah kita beranjak pergi dan memaknai hari-hari yang telah telanjang berdiri kekasih, hidup ini penuh dengan problemma dan panggung sandiwara, asal kita yakin bahwa senja kan datang maka seharusnya kita bisa berperan dengan baik atas banyaknya koreografi para pendahulu yang telah kian banyak menjelentrehkan makna serta semboyan dalam hidup dengan bijaksana. Jangan khawatir atas apa yang telah terjadi karena sejujurnya banyak kekhawatiran pribadi yang timbul atas apa yang telah terjadi, apalagi apa yang belum terjadi. Maka indah, baik, dan merona bahkan banyak lagi yang kau fahami dalam hidup ini sejujurnya bagaimana kamu menemukan dan berproses, bahkan tidak banyak dari banyak orang mendapatkan makan tersendiri atas senja yang telah ada dalam naungan hidup ini. Marilah-marilah hai saudara banyaklah berproses, banyaklah memproses agar kelak hidup penuh bintang dan terpaan sunyi yang melambai dan berimajinasi dalam setiap do,a dan tulus ini percayalah bahwa hidup ini soal bagaimana percaya dan teka-teki yang dapat membuat kita bingung dan bahkan kurang tepat sehingga kita tal yakin atas jawaban yang kita punyai.


Comments

Popular Posts