*penindasan dirimu sendiri*


.....


Negeri dengan segala muaranya dan perbedaan pendampat serta egosentrisme yang melekat dalam bait-bait rindu antara kesepian dan kepalsuan, meski prasangka ini telah tertanam dalam setiap gemerlap angin malam yang membuat semua ini tampak nyata. Peenindasan ini pertama kali di bumi semenjak manusia di ciptakan, yakni semenjak manusia menindas siang akan adanya malam begitupun menindas malam akan adanya siang. Hal ini mungkin memang tak terasa oleh satiap manusia, tapi dengan diam-diam manusia telah menindas ketulusan siang dan malam, cerah dan gelap. Namun diantara gelombang yang bernyala itu kebodohan yang menyapa di bumi bukan tak berarti, akan tetapi kembali berarti, bahwa. Barang siapa menerima penindasan itu adalah sebuah kebodohan yang sangat nyata. Ketika alam menyediakan air untuk menghidupi manusia tapi diam-diam manusia membeli galon yang tersedia di beberapa warung untuk di gunakannya. Ini wujud penindasan terhadap hutan dan air yang ada di dalamnya, dasar manusia bego!
Manusia bodoh!
Gak punya otak apa ya??
Apa si yang kamu mau??
(Ucap hutan dan air) "Aku ini tulus untuk kamu begoo, aku akan memberikan ketulusanku untuk menyambung hidupmu" tapi tragisnya manusia tetap membeli galon untuk memenuhi keutuhan hidupnya, lalu menggoleskan air dari hutan yang tulus hanya untuk cebok pembasuh TAI.

...

Penindasan ini sungguh sangat luar biasa, terinjak-injak harga diri.. Terbontang - banting perasaan air dari hutan sehingga rapuh lalu kemudian manusia tetap menghancurkan sumbernya pula..
Lalu dimanakah letak balasan ketulusan ituu tuhan?? Apa jangan-jangan ketidak adilan ini adalah keadilan yang sebenarnya? Atau bagaimana segingga harha diri setetes air entah kemana, lalu ego seperti apa sii yang ada dalam benak manusia? Haaa?? Sehingga diam-diam penindasan ini begitu sangat kejam yang akhirnya memberikan kurang jelasnya kenapa manusia di lahirkan si dunia ini jika ketulusan kalah dengan penindasan.
Matilah harga diri
Jangan hidup kalau tidak mati. Dan matilah saja kau dalam penindasanmu! 

04,01,22
Roni Susilo. 

Comments

Popular Posts