*Gigi kaki dalam selimut suci*
Sepasang sendal swalo yang membiru mungkin tak bisa membasahi banyak sebab sehingga kau terbabgun dan menerenung dari tidurmu atas dengkul yang memukul dan gigi yang mengiring. Namun sekimut kesunyian dalam pelukan suci ini akan sanantiasa membasahimu bagai air pagi hari yang mencoba membasahi sekujur muka dengan ketidak sabaran merasakan semerbak harum wangi ayam yang akan memerangi gigi. Sepotong kertas ini tak mampu aku sobekkan yang aku kira akan meredakan gusi yang terus menemanimu dalam diammu, dalam apaun itu dengan senyumu dengan kesempatan itu. Seonggok prasangka ini mungkin tak mampu kita tonggakkan ke dalam keberadaan dia atas hari yang mungkin ambigi dan terlintas dalam benak. Prasangka-prasangka yang ada jangan tidak membuat kita yakin akan berbagai hal yang akan di temui, bahwa bagaimana nanti ada bagaimana hari ini nyata...
Kekasih bila malam pagi ini terlalu lelap untukmu menyapa mimpi maka sandarkanlah dirimu dalam benak ini agak kita kelak memahami betapa luasanya kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dan bahkan kemungkinan-kemungkinan yang belum tentu terjadi sebab hal-hal yang ada dan bahkan hal-hal yang belum ada akan kembali ke sangkar yang nantinya bagaimana kita memahaminya. Terus bernyala selagi ada
Terus bejalan selagi mampu
Terus bernafas salagi hal itu mampu membuat kita hidup
Hidup dalam penantian-penantian ketidak pastian dalam kenyataan

Comments