*menyapa haluan yang bertanya*

Pak buk.. 
Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku. 
Perpisahan kalian berdua mungkin membuatku terbangun dan menyapa cahaya yang tuhan berkian dalam sekucur diam dan rasa ini. Namun maafkanlah aku yang kian tak bisa menjadi sebuah saksi atas kenyamanan dan kerinduan kalian berdua, namun hadirku di dunia menjadi sebuah jawaban pada suatu hari yang lalu kau pernah berada dalam posisi yang mungkin tal bisa aku bayangkan. 
Dalam hidup kalian berdua saya yakin terdapat hiruk pikuk yang semerbak yang mungkin kian menjadi pembelajaran atas hari ini atas menyelesiakn sebuah problem, namun terlepas dari konteks itu jiwa ini ada dalam posisi bertanya-tanya akankah aku menjadi sosok yang nyata dan berbakti pada dirimu, kebaktian-kebaktian yang kian menjalar mungkin tak banyak kau rasakan yang pada akhirnya banyak pula yang merasakan. Namun pak buk akupun bertanya-tanya kebaiktian seperti apakah yang akan aku jalankan dalam kehidupan ini. Pak buk Terimakasih banyak, dalam dunia ini aku sadar bahwa tak ada usaha yang baik melainkan bagaimana cara kita berusaha lalu bersyukur atas apapun yang telah ada, akupun tap paham bagaimana cara aku menjadi dewasa sehingga aku mampu menyapa hal-hal yang kian akan datang ke dalam diri saya. Memang sadarilah bahwa kekhawatiran adalah hal yang sangat lumrah dalam manusia, namun jika aku terus begini mungkin akan ada dalam posisi yang bertanya-tanya terkait dengan bagaimana nantinya. Ya begitulah kehidupan, jika kebaktian di hadapkan pada steategi finansial memang aku mungkin orang yang paling lemah dalam itu, karen memang aku sadar sampai detik ini pun aku mungkin tak bisa mengembang tanpa ada keringatmu yang menghores sekujur tubuhku. Kadang sering menelisik apakah aku yang memang belum bisa mendapakan ataukah aku yang ego karena ingin selalu mendapatkan??
Pertanyaan kecil ini tidak membuat jiwaku tergoyah sedikitpun, karena meang aku masih di goreskan keringat ibu, dan jika capaian kedamaian hidup dalam dunia memang dengan finansial mungkin aku tidak akan membuat finansial sebagai suatu capaian, sedang karyapun tak ada, sedang keringatpun menetes dengan sia-sia, sedang jiwapun bertanya-tanya.
Kakiamt-kalmiat berproses serta ekspresi memang terus aku gandurngkan dalam diri, sehingga lupa pada nantinya akan kembali ke dalam finansial, bahwa tak ada orang yang mampu hidup di masa nanti dengan kedamaian tanpa finensial, akan tetapi sadarilah bahwa keyakinan mereka lebih kuat bahwa tuhan akan memberikan segudang kejutan-kejutan tanpa kita menghawatirkan bahkan yang di hawatirkanpun tak sedikit yang menjadi kejutan. Dengan demikianlah telisik mimpi ini akhirnya menjadi satu poros yang berdaulat atas apa-apa yang menjadi apa adanya, renungkanlah kembali bahwa hidup itu suci dan polos. 

Comments

Popular Posts