**Bak bunga menyapa mimpi*
Ketika banyak kehendak yang di inginkan, memang demikinalah dengan jajaran dan poros yang akan berdamai dengan kemesraan, ketika lembayung berdamai dengan kehaluan dan juga lembayung berjajaran dengan dermaga yang pada akhirnya air akan menciprat ke dalam selok serta tanam yang mendamaikan, tuhan bagaimanakah ini apa ini memang sebuah gramatika hidup terkait dengan hal yang akan aku jalani ataukah di hindari sama sekali. Dan ketika menelisik sejenak bahwa hal ini memang menjadi sebuah perkara yang kian tak mungkin aku jalani lantaran kesamaan kemauan keinginan bahkan cinta. Berdamailah dengan poros, berdamailah dengan apa-apa yang membuat kita tak lagi bersangkar pada kenyataan, hingga dalam naunganya aku akan tetap ada dan memeluk lantaran kasih dan sayang. Memang tak ada yang menjadi suatu hal untuk kembali bertanya akan pemantasan diri, dan juga hakikat yang memang kan senantiasa di haindari menjadi suatu dermaga sehingga dapat memberangkatkan hal-hal yang mungkin kian bernyala, seta sontak menjadi sebuah cerita dimana gubuk-gubuk itu akan tetap berdiri menemani hari-hari yang akan kita liwati.
Tuhan aku akan
sanggup menjalani apa-apa yang mungkin hal itu tak juga kau kehendaki, bila hal
itu akan mebuat hidup ini menjadi sebuah goresan yang mungkin akan menjadi
menarik jika bisa di pahami menjadi pelindung bagi diri. Jika hal ini bagian
dari goresan maka percyalah bahwa hal ini nyata, bahwa hal ini merupakan sebuah
proses untuk tetap tumbuh dan menunduk atas proses- proses yang mungkin tidak
gampang, kaksih berdamaliah dengan apa-apa yang membuatmu tersenyum, menyapa
dan juga meberikan seonggok gambaran yang kian merupakan proses kita bersama,
jika senandung lirih ini tetap menyapa maka berdaulatlah dengan jemari-jemari
yang memnggores sepi, yang sebelum itu hidup ini meungkin berjalan begitu saja
atas banyak kedustaan. Kekasih aku titipkan diri ini untuk bagaimana kita
nanti, menyapa lembayang lembayang yang mungkin akan kita kemas dengan cara
yang berbeda. Bahwa hidaup seseorang penuh dengan kemsa-kemasan yang di pahami
sebagai suatu kenikmatan, marilah bersama-sama menyapa hari-hari yang kian
tergambar dalam sepi. Karena hidup bukan bagaimana kita nanti atau bagaimana
kita hari ini, akan tetapi akan bagaimana kita menemukan arti lalu mati.
Mari berproses
keksihku
Bandung 30 Maret
2021

Comments