*Menyapa Segukung Ombak*
Hal yang tidak gampang adalah bagaimana kita menyesuaikan dengan hal hal yang terjadi, tentang bagaimana kita menyamakan persepsi lalu bertoleransi dan pergi. Kita memang sering mengalami terkait dengan bagaimana mereka dengan prosesnya datang menjumpai kita lalu pergi meninggalkan kita, karena hakikatnya semakin banyak orang datang menemuimu, semakin banyak pula mereka yang pergi meninggalkanmu. Banyak kalimat-kamlimat yang kita temui dan dengan sadar hal itu kita percayai dapat merubah pondasi kita agat senantiasa lebih kuat menghadapi hal-hal yang akan kita temui salah satunya pergi meninggalkan dengan jalan perpisahan. Aku selalu bertanya terhadap semua orang, bahkan diriku sendiri akan kenapa engkau pergi dan aku akan selalu tidak ikhlas melihat kepergianmu, karena aku sadar kau telah ada didalam diriku.
Namun hal ini hakikatnya sudah tergambar jelas pada sebiji nasi dan sayur yang kita telan lalu setelah ia dirasa cukup dalam diri ia akan pergi meninggalkan tetapi demgan kenikmatan. Adakah kita yang pergi meninggalkan dengan kenikmatan meski di pondasikan keihlasan yang sangat kebal, seperti makanan yang berproses dalam diri yang cukup lalu pergi dengan kenikmatan, apakah akan sama lalu bagaimana..
Bahkan jika kita mampu menggugat lagi rasa syukur yang luaspun seakan tak mampu menandingi mereka yang pergi.
Kita selalu kesal dengan apa yang terjadi dengan segudang persoalan yang mungkin hal itu akan membuat kita mati, tapi sadarilah bahwa seingin matinya kita tidak pernah terlintas sedikitpun kita tentang berhenti bernafas. Sekejam itu kah diri ini?

Comments