*samparan kertas sampah*
Terombang ambing berdesah desuh riang menjadi alunan suara yang mungkin kian tak lagi mnejadi arti, akan akan hanya memanggilmu kekasih meski tak paham lagi bagaimana orang mengimplementasikan kata tersebut. Tautan taakan menjadi pijakan permata, yang kian menyelimuti segujur ego segujur amarah segujur desaahan yang membuat telinga badai bergemuru diantas corong yang semakin menjadi melayang diatas roda yang menganggap mencekik ibunya, mencekik hawanya... Ayolah bangkitlah dari tidurmu mulailah menyelimuti mimpi diatas hal yang tak rapi sekalipun, kepala pusing memang menjadi tonggakan dari seutas tali yang bingaung engaku pahami lagi, jika hanya begini yang bisa kita pahami maka redupkanlah ego-ego ini sehingga menjadi alunan yang tak lagi kau rasakan menjadi arti, entahlah sampai kapan yang jelas tutup telinga dalam gemeruwung rasa ini melampiaskan amarah dalam diam, lepaskanlah, keluarkanlah bahwa roda adalah roda yang tetap akan berpitar selama penggerak tetapenyala.
Terimakasih ibuu Terimakasih segalanya atas seba-seba yang terbarukan, jadi jangan tunggu untuk mengerti.

Comments