menghadirkanmu dalam tanamku

Teringat akan beberapa masa yang ada, sebelum mentari tiba dan terbit fajar menemaniku ini memang sedikit terasa dengan gembira akan sesekali menghadirkan dirimu dalam halusinasi nafas asliku. Memang menanam bulanlah soal siapa yang merawatnya, namun jika kita mendosakan untuk menebang nya dan kita membutuhkanya mungkin kita juga terlalu munafik untuk tidak ikut mendapatkan dosa atas apa yang kita tanam. Manismu dan senyumanmu memang patut ku sadarai bahwa itu nyata, meski sesekali meruntuhkan realita yang memang tak punya apa-apa, kebodohan yang di anggap orang memang Kadang-kadang perlu di sadari oleh pribadi bahwa bodoh bukan kata mati yang tak lagi ada arti. Dan bodoh bukan soal materi tetapi soal hati. Jika ukuranmu bodoh dengan berfokus pada materi maka engkaupun akan buta hati meski hal ini sudah tak berarti dalam manusia masa kini. Namun inilah mungkin cinta yang memang tanpa di sadari aliran deras dan sesekali tak sadar membawa kemana kita akan luasnya imajinasi, logika dengan cinta memang tak pantas untuk mereka yang tak dapat memfikter dan terlalu mentah untuk memakanya, karena hal apa yang di sajikan seseorang, tamu tidak perlu tau prosesnya. Yang perlu di ketahui oleh seseorang tamu hanya sekedar rasa dan cerita yang akan menemaninya. Aku sangat setuju dengan beberapa kalimat yang tentunya Mengandung makna yang sangat besar "Urip iku mung mampir ngombe" (hidup itu cuma numpang minum). Dalam sebuah kebudayaan masyarakat jawa tentunya sangat melekat bidaya untuk silaturahim, hal ini semoga di masa yang akan datang tidak di telan oleh keadaan, karena memang sebuah gerakan yang Mengandung makna sangat besar ini dapat menggambarkan pola hidup dalam manusia, namun yang perlu di garis bawahi bahwa sesederhana itulah manusia hidup di dunia. Jika kita tak mau tantangan dan hal yang akan menguji kita maka apalah daya kita hidup si dunia. Maka kadang serentak manusia menggalami kehidupan rasa bersama lawan jenis dengan banyak hal yang memang harus di tanam bukan di petik. Maka tanamkalah jiwa kasih dan sayang yang besar dan jangan pernah berharap memetik jika untuk merawatnya saja kita enggan, maka tanmkanlah dengan sadat tumbuh dengan sadar ditumbuhkan dengan tak sadar kita suatu saat nanti akan memetiknya. 

Ropoh, 10 September 2020
@akarbunganusantara 

Comments

Popular Posts