sadar aku bisa tapi aku. sadar tidak bisa.
Mengapa aku tak bisa sepertimu sedangkan kita sama, kalimat ini memang terkadang menjadi sebuah hal penggerak jiwa yang memang pada ahirnya beetanya-tanya tentang diri, banyak hal yang tak di miliku di aku begitupun seterusnya. Kadang aku juga pernah terlintas apakah iki kesalahanku yang membuatku tak bisa sepertimu, mencoba dan terus mencoba mungkin akan terpatahkan oleh sebuah rasa yang memang tak bisa nyaman dan mendalami. Bahasa aksara dan wacana, memang kadang membuat fikiran melayang.. Bahkan keresahan pun akan tibul meski sudah sering mencoba menghindarai, bila ada suatu hal yang tak nyaman tentunya ada beberapa hal yang tak sesuai, entah itu terletak pada dirimu ataukah diriku namun begitulah manusia kadang enggan memahami akan potensi diri yang tuhan berikan sebagai sebuah peran kehidupan. Se munafik-munafiknya manusia bila ia menyadari hal itu jalan untuk tidak menjadi peran itu tentunya sudah terlintas dalam fikiranya, namun terkadang kita stak di satu tempat karena zona yang nyaman dan tak memahami bahwa zona akan terus beribah. Pada suatu ketika aku juga punya tasa bahwa hakikat manusia ini memang sudah bisa di fahami dari beberapa perbuatan yang telah dahulu lalui, bahkan bukti-bukati dari kebesaran peradaban telah menjadi nyata. Namun sempat sedikit melupa bahwa bersujud kepadanya bukan tanpa alasan tapi sebuah nafas yang sejayinya tak bisa kita lupakan meski enggan memfikirkan. Maka marilah ayo kita bersama-sama selalu tersadar lewat setetes hujan yang jatuh tanpa kita sadari bahwa itu jatuh, hanya rasa yang sejatinya peka yang bisa yakin bahwa ia telah jatuh.
@akarbunganusantara

Comments